Mari Bergabung dgn Ratusan Clients kami .........untuk Informasi dan Konsultasi Pemasangan CP Call: 0812 66 00 616


SANJAI, Payakumbuh .Kebijakan Pembangunan KawasanIndustriPayakumbuh


Kebijakan Pembangunan Kawasan Industri Payakumbuh

HALUAN

Sabtu, 30 Maret 2013 02:04

Pandangan bah­wa pertumbuhan eko­nomi yang cepat me­merlukan indus­triali­sasi didasarkan kepada obser­vasi empiris bahwa negara maju sebagian besar adalah negara industri, sedangkan negara terbelakang sebagian besar adalah negara agraris.

Disamping itu, sektor industri dapat menghasilkan tenaga kerja terampil (skilled labor) serta menyerapnya dengan upah yang lebih tinggi, melatih manejer dan menye­diakan enterpreneur yang semuanya langka di negara-negara sedang membangun (Salvatore and Dowling, 1997:67).

Payakumbuh menuju kota agroindustri

Usaha industri makanan ringan  di Kota Payakumbuh mempunyai sejarah yang pan­jang sehingga melekat dengan nama kota ini. Agaknya ini ikut memberikan kontri­busi sehingga usaha industri kecil makanan ringan di Kota Paya­kumbuh sampai sekarang tetap berdiri kokoh walaupun gene­rasi dan terpaan angin peru­bahan datang silih berganti.

Diantara 17 kabupaten/kota di Sumatera Barat dan bahkan di Sumatera Tengah sebelum dimekarkan (yang meliputi 4 provinsi: Sumatera Barat, Riau, Jambi dan Kepu­lauan Riau)  hanya ada 2 kota yang namanya dikiaskan dengan nama produk industri, yaitu Bukittinggi sebagai Kota Sanjai dan Payakumbuh seba­gai Kota Gelamai, keduanya produk industri.

Padang kota terbesar di provinsi ini dikiaskan dengan Kota Bingkuang dan Solok Kota Bareh, kedua-duanya  adalah produk pertanian.  Fenomena ini meng­indika­sikan bahwa ekonomi Bukit­tingi dan Payakumbuh menga­lami pro­ses industrialisasi lebih awal dibandingkan daerah-daerah lainnya. Dan semua orang maklum bahwa membuat gelamai jauh lebih rumit dari membuat kerupuk sanjai.

Walaupun demikian, per­kem­bangan industri di Paya­kumbuh selama ini belum beranjak jauh, di tengah-tengah perubahan zaman yang berlari dengan cepat. Seba­hagian besar (98,3%) usaha industri tersebut masih meru­pakan industri kecil. Pada tahun 2009, ada 961 unit usaha industri di Kota Paya­kumbuh.

Dari jumlah tersebut, hanya 16 unit yang termasuk industri besar dan menengah. Selebihnya merupakan in­dustri kecil yang terdiri dari industri kecil formal (550 unit) dan nonformal (395 unit). Sementara jumlah tenaga kerja yang diserap adalah 4592 orang atau hanya sekitar 8,27% dari jumlah angkatan kerja di Kota Payakumbuh.

Selama periode 2002-2010, jumlah produk industri me­ngalami peningkatan yang pesat dengan laju pertum­buhan rata-rata 6,07 % per-tahun, sedikit lebih tinggi daripada laju pertumbuhan ekonomi kota ini yang hanya 5,94 % per-tahun (Adrimas, 2011: 37). Perkembangan ini berimplikasi kepada pening­katan kontribusi sektor indus­tri terhadap perekonomian Payakumbuh, yaitu dari 6,71% (2004) menjadi 7,43% (2009), atau meningkat sebesar 0,72%. Walaupun peningkatan tersebut tidak terlalu tinggi, perkembangan ini meng­indika­sikan bahwa Payakumbuh sedang mengalami perubahan struktural menuju kota agro­industri.

Pembangunan kawasan industri

Pengembangan industri, dalam RPJM Nasional II Tahun 2010-2014 dititik-beratkan kepada: (a) Pening­katan pertumbuhan ekonomi daerah melalui pengembangan agroindustri, dan (b) Pengem­bangan kemampuan kewira­usahaan serta menajemen usaha.

Pembangunan industri juga memperoleh tempat yang proporsional dalam pemba­ngunan ekonomi Sumatera Barat. Ada 4 strategi dalam RPJPD Sumatera Barat, 2005-2025) yaitu: (a) Mening­katkan usaha pertanian mo­deren dan agribisnis, (b) Mengembangkan kegiatan industri dan jasa yang efisien, (c) Mengembangkan Sumatera Barat sebagai daerah tujuan wisata nasional dan interna­sional, dan (d)  Menjadikan Sumatera Barat sebagai pusat pertumbuhan dan pintu gerbang pantai barat Su­matera.

Keempat strategi itu satu sama lain saling mendukung, ini berarti strategi pengem­bangan sektor industri dan khususnya industri kecil tidak terlepas dari keberhasilan pengembangan sektor perta­nian, wisata dan jasa lainnya.

Tujuan pembangunan Kota Payakumbuh selama periode 2003-2008: Menjadikan “Paya­kumbuh sebagai Kota Agro­industri, Perdagangan dan Wisata Budaya”, mencermin­kan kuatnya komitmen untuk membangun industri di kota ini. Komitmen ini selanjutnya dijabarkan ke dalam 25 kegia­tan pembangunan yang terkait rapat dengan industri selama periode itu.

Dua dari 25 kegiatan terse­but adalah: (a) pembangunan pusat pemasaran ringan tra­disional, dan (b) pembangunan kawasan industri.

Kedua pro­yek strategis ini belum dapat diwujudkan pada pe­riode tersebut karena tanah yang diperlukan untuk itu  belum tersedia terutama karena keterbatasan ang­garan.

Kegiatan pembangunan kawasan industri, yang diha­rapkan  merupakan salah satu leading sector pembangunan ini, dimasukan lagi ke dalam RPJMD 2008-2012, namun belum juga berhasil direa­lisasikan, kembali disebabkan oleh terbatasnya anggaran.

Selain itu karena adanya kegiatan lain yang dianggap lebih mendesak dan lebih penting, antara lain pemba­ngunan Kantor Balai Kota, dan Kampus Unand di Paya­kumbuh. Kedua-dua kegiatan ini memerlukan biaya yang relatif besar menurut ukuran APBD kota ini.

Kebijakan pada waktu itu lebih mengutamakan pemba­ngunan bidang pendidikan dan kesehatan dibandingkan de­ngan pembangunan industri kecil. Akan tetapi, bagaima­napun juga, pembangunan pendidikan dan kesehatan secara keseluruhan dan dalam perspektif jangka panjang akan kondusif bagi indus­trialisasi.

Kalau dianalisis lebih dalam maka hal ini disebab­kan terjadinya perubahan visi  pembangunan Kota Paya­kumbuh dari penekanan kepa­da pembangunan ekonomi (2002-2007) kepada penekanan kepada pembangunan pendi­dikan dan kesehatan (2008-2012) sehingga pembangunan industri tidak begitu di ton­jolkan lagi.

Visi Pembangunan Kota Payakumbuh tahun 2008-2012 adalah:

“Terwujudnya Paya­kum­buh sebagai Kota Sehat Man­diri yang didukung oleh sum­ber daya manusia yang berkualitas, beriman dan bertakwa”

Akan tetapi, bagaima­napun juga pembangunan kawasan industri merupakan langkah yang sangat stra­tegis,  bukan hanya bagi pemba­ngunan sektor industri, tetapi juga bagi penataan kota dan lingkungan serta pemba­ngunan secara kese­luruhan.

Pembangunan agro­industri akan mempunyai dampak yang signifikan (multiplier effect) ke hulu dan ke hilir. Ke hulu, pemba­ngunan agro­industri akan menstimulasi perkembangan sektor perta­nian melalui perluasan pasar produk-produk pertanian,  baik di Kota Payakumbuh dan ter­utama bagi daerah bela­kang (hinterland) nya, khusus­nya  Kabupaten Lima Puluh Kota dan Tanah Datar.

Sedangkan ke hilir, dia akan mendorong perkem­bangan sektor perdagangan, transportasi, komunikasi, jasa keuangan dan jasa lainnya.  Pada waktu yang bersamaan perkembangan industri ini, baik ke hulu maupun ke hilir, secara keseluruhan akan memperluas kesempatan kerja.

Berikut ini adalah manfaat yang dapat diperoleh apabila usaha industri ditempatkan pada pada satu kawasan tertentu:

(a) Memudahkan pembi­naan oleh pemerintah seperti memberi pelatihan, mela­kukan monitoring dan evaluasi, dan perencanaan ke depan;

(b) Memudahkan pe­ngu­saha industri berkomunikasi, berdiskusi dan membina   kerja-sama sesama mereka untuk mencapai tujuan dan memecahkan persoalan ber­sama;

(c) Pemerintah dapat mem­bantu menyediakan fasi­litas yang dapat dimanfaatkan bersamasehingga lebih efisien dan efektif dibandingkan dengan apabila lokasi usaha industri kecil itu terpencar-pencar. Fasilitas tersebut misalnya, jalan lingkungan, tempat usaha, listrik, air bersih, pengelolaan sampah dan limbah, keamanan dan sebagainya.

(d) Dari segi pemeliharaan lingkungan konsep ini juga sangat bermanfaat, karena kalau dibiarkan tumbuh seca­ra alami seperti sekarang, akan cenderung semraut terutama ketika usaha indus­tri itu semakin besar, dan dengan limbahnya yang sema­kin besar pula. Sekarang ini tempat usaha industri banyak yang bercampur aduk dengan pemukiman penduduk sehing­ga cenderung tidak sehat;

(e) Pembangunan kawa­san industri ini perlu disin­kronkan dengan kegiatan-kegiatan lannya seperti upaya pengembangan tata ruang, penataan kawasan, pem­bangunan jalan dan menja­dikan Payakumbuh sebagai kota yang sehat serta nyaman untuk tempat tinggal.

(f) Kawasan industri ini diharapkan dapat mening­katkan daya saing industri, yaitu melalui penekanan biaya produksi serta pengembangan produk dan pemasaran:

(g) Memudahkan pengem­bangan asosiasi pengusaha industri kecil.

Pengembangan kawasan industri ini perlu dikoor­dinasikan dan diselaraskan dengan kegiatan-pembangunan lainnya yang terkait seperti penataan ruang, transportasi, kesehatan lingkungan, pari­wista  dan sebagainya.

Pro­gram-program pen­didikan dan pelatihan dan/atau pengem­bangan sumber daya manusia perlu dilan­jutkan dan diting­katkan kualitas serta relevan­sinya bagi pengembangan industri khususnya industri kecil dan menengah.

Ke depan, disamping pe­me­rintah, pengembangan usaha industri kecil perlu melibatkan lebih dalam lagi perguruan tinggi dan dunia usaha secara keseluruhan dalam bentuk dukungan jari­ngan usaha, sehingga usaha industri kecil Payakumbuh pada suatu ketika dapat menghasilkan para entre­preneur yang sangat diper­lukan bangsa ini.

Produksi entrepreneur ini sangat diperlukan mengingat jumlah entrepreneur di Indo­nesia sampai tahun 2012 hanya 0,34% dari jumlah penduduk, lebih rendah diban­dingkan Amerika Serikat (11,0%), Singapura (7,0%), dan Malaysia (5,0%).

Berdasarkan kondisi di atas, penulis menyarankan proyek ini dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kota Payakumbuh karena pengem­bangan kawasan industri ini perlu dilakukan secara ber­kesinambungan.

Penutup

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pemba­ngunan kawasan industri di Kota Payakumbuh adalah pilihan yang sangat strategis, dan sudah dirintis dan dima­sukkan ke dalam 3 RPJMD kota ini (2002-2008; 2008-2012; 2012-206).

Walaupun demikian, ke­ingi­nan ini belum bisa juga diwujudkan karena keter­batasan lahan, dana dan komitmen. Pembicaraan anta­ra Wali Kota Payakumbuh Riza Falepi dengan manaje­men PT Jababeka. Tbk. di kediaman beliau (Padek 11 Maret 2012) merupakan lang­kah maju dalam menanggu­langi keterbatasan ini.

Pertama, adanya komit­men yang kuat dari walikota. Kedua, terbukanya peluang masuknya investor yang akan mengatasi masalah dana.

Sedangkan yang ketiga,  pe­nye­diaan lahan untuk mem­bangun infrastruktur kawasan industri memerlukan parti­sipasi masyarakat secara luas, khususnya pemilik lahan.

Diperlukan pendekatan dan negosiasi yang rumit antara walikota beserta jaja­ran­nya (pejabat terkait) de­ngan pemilik lahan, mengi­ngat akhir-akhir ini harga tanah di kota Payakumbuh meningkat tajam seiring de­ngan tingginya laju pertum­buhan ekonomi kota ini. Apalagi tanah yang cocok untuk kawasan industri ini terbentang disekitar jalan lingkar utara yang sangat strategis. ***



ADRIMAS
(Dosen Unand dan Kepala Bappeda Kota Payakumbuh, 2002-2007)

ALAMAT GARANSI

-OLYMPUS

OCCI ( OLYMPUS COSTUMER CARE INDONESIA )

PT.PBP

Jln.Bandar Pulau karam No.23-Blok 4 Tlp : 0751. 30748

Padang ( Sumatera Barat )